(Rumah Amal Salman, Bandung) – Sahabat Amal, ruangan itu dipenuhi semangat anak-anak muda. Senyum, tawa, dan rasa penasaran menyelimuti wajah para penerima Beasiswa Perintis 2024 yang mengikuti Perintis Leader Program (PLP) pada Sabtu, 16 Agustus 2025. Kali ini, mereka berkesempatan belajar langsung dari Syahrul Pribadi, Director of Samudera People Development sekaligus CEO Advisor of Employee Satisfaction & Happiness, tentang bagaimana membangun personal branding di tengah dunia yang penuh tantangan.
Syahrul membuka materinya dengan menyinggung kenyataan pahit: perekonomian Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kondisi ini, menurutnya, memengaruhi banyak aspek, termasuk serapan tenaga kerja oleh perusahaan. “Di tengah persaingan yang ketat, personal brand menjadi penentu siapa yang dipilih,” ujarnya. Namun ia menambahkan dengan optimis, “Kalau bisa, jangan hanya mencari kerja. Lebih baik kalian menjadi pengusaha, membuka kesempatan, dan memberi manfaat bagi banyak orang”, imbuhnya.
Materi kemudian mengalir ke konsep dasar brand. Menggunakan iceberg theory, Syahrul menjelaskan bahwa brand memiliki dua dimensi: brand identity dan brand core. Brand identity meliputi elemen visual seperti nama, simbol, warna, atau logo. Sementara itu, brand core mencakup nilai, visi, misi, budaya, serta reputasi yang melekat pada seseorang. “Keduanya saling melengkapi. Identitas visual adalah pintu masuk, tetapi kekuatan sejati brand ada pada inti yang kita hidupi,” terangnya.
Ia kemudian menekankan bahwa brand identity berfungsi sebagai pintu masuk untuk menimbulkan kesan pertama. “Kesan pertama akan menentukan diferensiasi, kepercayaan, dan kredibilitas seseorang,” kata Syahrul. Untuk memperkuatnya, Syahrul menekankan tiga hal: melakukan kampanye diri, konsisten menyuarakan brand melalui kanal-kanal pribadi (media sosial), dan jadilah otentik. “Komunikasi yang intens dan strategi yang berkesinambungan akan menjadikan brand bukan sekadar citra, tapi pengalaman nyata yang diingat orang lain,” katanya.
Suasana semakin menarik ketika Syahrul mengajak dua peserta, Jani dan Akbar, maju ke depan. Mereka diminta memperkenalkan brand identity masing-masing. Hasilnya, peserta lain memberikan persepsi yang sesuai dengan apa yang dipaparkan sebelumnya. Namun ini juga menyampaikan, terkadang brand identity berbeda dengan pandangan diri mereka sendiri. “Kadang kita merasa tidak percaya diri, tetapi orang lain justru melihat kita punya kemampuan berbicara di depan umum dan berwibawa. Dalam situasi seperti ini, penting untuk mendengar persepsi orang lain, karena sering kali mereka lebih objektif,” jelas Syahrul.
Bagi para peserta, sesi ini bukan sekadar teori, melainkan latihan nyata untuk mengenali diri sekaligus belajar menerima cara orang lain menilai. Personal branding bukan hanya tentang tampilan, tetapi juga tentang bagaimana nilai dan karakter mereka dihidupi sehari-hari.
Acara ini turut dihadiri Direktur Rumah Amal Salman, Syahrial dan Ketua PLP, Viya Fatwa Nurmalasasi. Keduanya berpesan agar peserta Beasiswa Perintis dapat menunjukkan prestasi terbaiknya di angkatan 2024. ***

