Ketika Bunda Aisyah Ingin Dimanja

(Rumah Amal Salman, Bandung) – Sahabat Amal, suatu hari Aisyah r.a sedang melakukan hal-hal kecil ketika Rasulullah datang ke biliknya. Orang-orang se-Madinah biasa berspekulasi, Nabi SAW sedang dalam suasana bahagia setiap tiba jadwal berada di dalam bilik Aisyah. Sebagai seorang sayyid yang berkuasa di Arab, beliau bahkan tidak memiliki kamar sendiri.

Nabi SAW tinggal di bilik-bilik istri beliau secara bergantian. Rumah beliau sendiri menjadi tempat umum. Orang-orang berdatangan untuk berkonsultasi tentang masalah-masalah sosial atau agama, maupun pengadilan dalam pertikaian. Masyaallah mulianya Nabi SAW, rumahnya pun diwakafkan untuk melayani umat.

Pernah suatu ketika karena kesibukan beliau, Aisyah bertanya, “Kemana saja engkau seharian hingga sekarang?”

Sebenarnya Aisyah tidak pernah lupa, sebab beliau juga masih meyakini lelaki yang menjadi suaminya itu adalah seorang nabi, dalam hal-hal khusus, Rasulullah tetap memperlakukan Aisyah sebagai istri yang ingin disayangi.

“Wahai, yang mungil cantik,” kata Rasulullah lembut, “Aku bersama Ummu Salamah.”

“Apakah engkau tidak memenuhi kewajibanmu terhadap Ummu Salamah?” tanya Aisyah menyindir sedikit keterlambatan Rasulullah yang mendatangi biliknya. 

Mendengar kata-kata dari Aisyah Nabi SAW hanya tersenyum dan tidak berkata-kata. Aisyah meneruskan kalimatnya, “Rasulullah, bagaimana pendapatmu. Jika engkau berjalan di antara dua turunan pada sebuah bukit, yang satu belum disentuh dan belum dimakan tanamannya, lalu bukit yang lain sudah disentuh, bukit mana yang akan engkau gembalakan hewanmu?”

Nabi SAW dikasih kode begitu paham arahnya kemana. Lalu beliau menjawab sesuai keinginan penanyanya. “Tentu turunan yang belum dimakan tanamannya”.

Lalu Aisyah meneruskan, “Begitulah”. Mata Aisyah berbinar. “Aku tidak seperti istri-istrimu yang lain. Mereka semua pernah mempunyai suami sebelumnya, kecuali aku.”

Rasulullah hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun. Aisyah rupanya juga tidak sedang menunggu jawaban apapun. Aisyah hanya ingin menegaskan seberapa istimewanya beliau.

Kisah –kisah bunda Aisyah memang seringkali menggelitik. Tidak bisa kita abaikan, bahwa Aisyah r.a memiliki sifat “perempuan” yang suka protes, menyindir, marah dan sejenisnya. Namun Nabi SAW yang bijaksana, tidak lantas melihatnya sebagai kekurangan Aisyah yang harus dipermasalahkan. Nabi SAW juga tidak asal memperistri Aisyah. Nabi memiliki langkah-langkah strategis “memanfaatkan” Aisyah untuk menelurkan program-program Islam yang bisa kita baca dan pelajari hari ini. Kita sama-sama tahu, Aisyah adalah salah satu shahabiyah yang memiliki kercerdasan luar biasa sehingga banyak hadist diperawikannya. Wallahu’alam. ***

Bagikan :

Bagikan

Berita Lainnya