(Rumah Amal Salman, Bandung) - Sahabat Amal, belakangan ini sedang ramai diperbincangkan mengenai tragedi sepak bola di Kanjuruhan Malang. Kabarnya tragedi Kanjuruhan telah menelan nyawa 131 orang karena gas air mata yang dilepaskan oleh oknum. Tragedi Kanjuruhan menimbulkan duka mendalam di dunia sepak bola dan masyarakat Indonesia.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 1 Oktober 2022 lalu terjadi ketika usai pertandingan antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Menurut berbagai ulasan tragedi tersebut menjadi bencana sepak bola terburuk kedua di dunia setelah peristiwa di Estadio Nacional, Lima, Peru yang menyebabkan lebih dari 300 nyawa melayang. Orang-orang juga bersimpati sampai membuat kampanye "Tidak Ada Sepakbola Seharga Nyawa".
Tragedi tersebut mengerucut pada isu fanatisme seseorang atau masyarakat terhadap suatu hal. Dalam KBBI fanatisme atau fanatik diartikan sebagai suatu paham atau kepercayaan atau keyakinan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran, seperti politik dan agama.
Melihat fenomena tersebut jadi teringat apakah para Sahabat bisa dikategorikan sebagai seorang yang fanatik? Ada beberapa dampak ketika seseorang atau masyarakat memiliki sikap fanatik. Di antaranya, mereka lebih konservatif, kaku, mudah terpancing emosi, gambling, dan akhirnya dijauhi oleh orang lain. Bila diperhatikan semua dampaknya bernada negatif, terlebih arti fanatik sendiri hari ini didefinisikan negatif pula.
Alih - alih berbicara tentang fanatik, nampaknya para sahabat lebih pas bila disebut cinta, sebab cinta menghasilkan pengabdian dan pengabdian tertinggi tentu saja pada Allah SWT. Hari ini kita bisa mengabdi kepada Allah tentu karena pengorbanan Rasulullah yang sudah dengan sabar menyampaikan ajaran ketauhidan yakni Islam.
Atas pengorbanan tersebut, akan keterlaluan nampaknya kalau kita tidak "fanatik" atau cinta kepada Rasulullah. Beliau yang tidak memiliki cela, yang shiddiq, fathanah, amanah, tabligh dan juga seperti disebutkan oleh "penganut" Rasulullah, cinta Rasulullah.
Jadi sebenarnya "fanatik" sah-sah aja selama keberpihakan dilakukan di jalur kebenaran, jalur ketauhidan. Wallahu'alam. ***