(Bandung, Rumah Amal Salman) - Meningkatnya kasus positif COVID-19 menyebabkan kebutuhan ventilator di Indonesia maupun dunia terus meningkat. Menanggapi hal itu, ITB, Unpad, dan YPM Salman ITB selaku inventor Ventilator Indonesia “Vent-I” terus memproduksi Vent-I untuk mengejar target 900 unit hingga akhir Juni mendatang. Lantas, apa pentingnya ventilator untuk mengatasi COVID-19 ini?
Jumat (12/06/2020), dr. Reza Widianto Sujud bersama dr. Ike Sri Redjeki menyosialisasikan penggunaan Vent-I melalui webinar yang diselenggarakan oleh ITB, UNPAD, dan YPM Salman ITB. Webinar yang dimoderatori oleh M. Kamal Muzakki ini dapat diikuti oleh semua pelaku rumah sakit di seluruh Indonesia. Melalui webinar ini, kedua dokter anestesi tersebut memaparkan peran ventilator dalam mengatasi COVID-19 sekaligus mengenalkan ventilator karya anak bangsa ini kepada semua rumah sakit di Indonesia.
COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang bersifat contagious, mudah menular. “Perubahan yang terjadi di dalam tubuh tadinya tidak dikenali. Namun, seiring berjalannya waktu, kita ketahui bahwa infeksi ini umum seperti infeksi-infeksi lain.” demikian paparan dr. Ike yang membuka sesi pertama webinar.
Virus yang masuk ke dalam paru-paru akan akan mengakibatkan peradangan pada alveoli sehingga alveoli terlapisi oleh cairan. Alveoli sendiri merupakan unit terkecil paru-paru yang berperan dalam pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Karena itu, alveoli bersinggungan langsung dengan kapiler darah yang membawa karbon dioksida. Proses peradangan alveoli tersebut membuat pertukaran oksigen menjadi terhambat. Akibatnya, pasien mengalami hipoksia, yaitu kekurangan oksigen.
Untuk mengatasi hipoksia, perlu dilakukan terapi oksigenasi. Terapi ini harus dilakukan sejak awal untuk menghindari kerusakan yang lebih parah. Bila hipoksia masih ringan, dapat dilakukan terapi dengan low flow oxygen. Pada kasus yang lebih berat, perlu digunakan high flow oxygen. Terapi high flow oxygen ini memerlukan high-flow nasal cannula (HFNC) dan continuous positive airway pressure (CPAP). Di dalam HFNC, udara dihumidifikasi dan dihangatkan sehingga dapat diterima tubuh pasien. Sementara, CPAP berfungsi untuk memberikan tekanan positif secara kontinu untuk membuka saluran pernapasan pasien. Vent-I di sini merupakan salah satu contoh CPAP.
Penjelasan mengenai Vent-I kemudian dilanjutkan oleh dr. Reza Widianto Sujud di sesi kedua. Setelah menjelaskan latar belakang terciptanya Vent-I, dr. Reza kemudian menjelaskan mengenai cara penggunaan Vent-I. Vent-I terdiri dari beberapa komponen seperti ventilator, tabung CPAP, masker, dan selang. Untuk mengoperasikan Vent-I, pertama botol harus diisi dengan air sampai garis batas. Air ini dapat dicampur dengan zat antimikroba untuk membunuh kuman yang keluar dari proses ekspirasi. Selanjutnya, selang disambungkan pada botol dan keran ventilator. Terdapat tiga slot pilihan positive-end expiratory pressure (PEEP) pada botol, yaitu 5 cmHg, 10 cmHg, atau 15 cmHg. Keran ventilator kemudian diputar pada PEEP yang sesuai dengan botol. Kemudian, ventilator dinyalakan dengan menekan tombol switch. Selanjutnya, beliau menjelaskan mengenai pengaturan tekanan mesin pada ventilator. Tekanan ini harus disesuaikan dengan tekanan PEEP.
“Ventilator ini terus dikembangkan. Saat ini, sudah compatible dengan rumah sakit.” papar dr. Reza. Beliau juga menjelaskan kekurangan Vent-I ini yang terletak pada suara pompanya. Dibandingkan ventilator yang ratusan juta, Vent-I masih mengeluarkan suara yang berisik. Meski demikian, akan terus dilakukan pengembangan ke depannya.
- Tentu saja webinar ini tidak dilakukan tanpa tindak lanjut. Setelah memahami Vent-I, pihak rumah sakit dapat mendaftarkan pengajuan ventilator ini. “Saat ini masih ada 800 unit amanah dari masyarakat Indonesia. Dananya dari masyarakat Indonesia jadi kami berkewajiban untuk memberikannya secara cuma-cuma.” Demikian penjelasan moderator. [Arsyad Maulana]

