(Rumah Amal Salman, Bandung) - Langkah Ali menuju mimbar imam tidak dimulai dari panggung besar, melainkan dari kegelisahan sederhana, yakni keinginan untuk bermanfaat kepada sekitar dan menggunakan amanah yang telah Allah berikan. Ia menyadari bahwa amanah keilmuan dan keteladanan bukan sekadar identitas, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga dan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Perjalanan itu membawanya pada proses yang tidak instan. Ali harus menata ulang hubungannya dengan Al-Qur’an, memperbaiki makhraj, memperdalam tajwid, hingga melatih keberanian untuk berdiri di depan jamaah. Dari yang semula ragu, ia perlahan tumbuh menjadi sosok yang lebih tenang dan yakin saat memimpin salat.
Momentum Ramadan menjadi ruang pembelajaran untuk memperlancar proses tersebut. Sepanjang bulan suci, Ali dipercaya mengisi sedikitnya 10 jadwal imam di berbagai masjid di Bandung, di antaranya Masjid Nurul Falah Gegerkalong, Al Falah, hingga Masjid Al Jabar Jatinangor. Ia menjalani amanah itu dengan lancar, sekaligus belajar memahami karakter jamaah yang beragam.
“Bukan hanya memimpin salat, tetapi juga melihat siapa jamaahnya, bagaimana kita bisa merangkul mereka dan mengajak semakin dekat kepada Allah,” ujar Ali.
Bagi Ali, menjadi imam bukan sekadar tugas teknis. Ia memaknai peran tersebut sebagai jalan untuk memberi dampak, memanfaatkan ilmu yang telah Allah titipkan, baik hafalan maupun pemahaman agama, agar bermanfaat bagi orang lain. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), ia tetap berkomitmen menjalankan peran tersebut dengan sungguh-sungguh.
Kisah perjalanan Ali kemudian bertemu dengan peran Rumah Amal Salman melalui program Beasiswa Imam Muda Salman (IMS). Melalui program inilah, Ali mendapatkan pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, mulai dari penguatan tajwid, makharijul huruf, hingga pembentukan karakter imam.
Program Imam Muda Salman tidak hanya melatih kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga membentuk kepribadian para pesertanya. Para imam muda dibimbing untuk menjadi teladan, membangun kedekatan dengan jamaah, serta menghadirkan nilai-nilai keislaman yang hangat dan inklusif di tengah masyarakat.
Bagi Ali, dukungan tersebut menjadi pondasi penting dalam perjalanannya. Ia tidak hanya belajar menjadi imam yang baik secara bacaan, tetapi juga memahami makna kepemimpinan dalam ibadah.
Ke depan, ia berharap program ini dapat menjangkau lebih banyak pemuda dan melahirkan generasi imam yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu memberi dampak luas.
“Ramadan adalah anugerah yang Allah kirimkan. Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” tuturnya.
Ia pun menutup dengan rasa syukur kepada Allah dan terima kasih kepada Rumah Amal Salman, Imam Muda Salman, serta seluruh pihak yang telah membersamai perjalanannya. ***

